Pelaksanaan Muktamar I Partai Kebangkitan Nasional Ulama ini mendapat predikat Muktamar Unik dari Museum Rekor Indonesia (MURI). Apa saja keunikannya? Apakah efektif acara rapat partai politik di atas kapal laut itu?
SUYANTO, SURABAYA (Surya Online)
Selama sidang Muktamar PKNU berlangsung, sama sekali tidak pernah terdengar dering telepon selular (ponsel). Juga tidak pernah terlihat ada peserta memainkan atau bicara dengan seseorang memakai ponsel. Padahal tidak pernah ada larangan membawa atau membunyikan ponsel.
Suasana ini memang terasa janggal. Maklum sejak era teknologi ponsel berkembang, sudah sulit ditemukan forum yang bisa menghindari dering alat komunikasi itu. Bahkan saat beribadah sekalipun sulit disterilkan dari bunyi ponsel.
“Begini ini untungnya kalau muktamar di kapal, sinyal ponsel tidak ada, sehingga semua peserta konsentrasi rapat.” seloroh Mukhtar Thaohir, Ketua Panitia Muktamar I PKNU.
Sinyal ponsel memang tak selalu bisa didapatkan di atas KMP Lambelu yang sedang berlayar sehari semalam dari Surabaya-Jakarta, dari tanggal 13 - 14 Desember. Praktis sejak tiga jam meninggalkan Tanjung Perak Surabaya, sinyal ponsel diruangan menghilang. Hanya di anjungan yang masih bersahabat dengan sinyal ponsel, meski keadaannya timbul tenggelam, kadang ada kadang tidak. Sinyal baru kembali normal ketika tiga jam menjelang sandar di Pelabuhan Tanjung Priok.
Hilangnya sinyal ini menguntungkan panitia karena peserta lebih serius mengikuti persidangan. Terbukti peserta bersedia diajak sidang maraton. Sidang hanya berhenti untuk memberi waktu bagi peserta melaksanakan salat.
Peserta umumnya memang memilih tidak tidur. Sebagian beralasan harus ngebut rapat, sebagian lagi mengaku susah tidur karena kondisi kapal yang sedikit bergoyang. Apalagi malam itu, ada hujan cukup lebat disertai angin, sehingga goyangan kapal cukup terasa.
Rapat usai subuh ini juga menjadi pemandangan langka. Biasanya rapat-rapat baru akan dimulai pukul 08.00 WIB atau setelah menikmati udara pagi dan sarapan.
Meski rapat dikebut, muktamar sempat terancam tidak tuntas, seandainya agenda pemilihan berlangsung normal. Beruntung tiga agenda pemilihan, berlangsung aklamasi, mulai pemilihan Rois Dewan Mustasyar (KH Abdullah Faqih), Ketua Dewan Syuro (KH Abdul Adhim Suhaimi) dan Ketua Umum DPP PKNU (Choirul Anam).
Choirul Anam, Ketua Umum DPP menyatakan, muktamar tanpa sinyal itu memang diinginkanya. Selain bisa konsentrasi, hilangnya sinyal itu diharapkan bisa menangkal money politics (politik uang)
“Ternyata masih saja bisa kebobolan money politics meski hanya beberapa orang saja,” tutur Anam.
Anam tidak mau mengungkapkan pelaku money politics dalam pemilihan ketua umum DPP tersebut.
Yang jelas, dalam pemilihan itu Anam menang telak. Tidak ada pesaing yang dapat suara signifikan. Hanya Jahril Sungkono yang tembus 35 suara. Itupun tak cukup modal maju ke tahap pemilihan yang minimal didukung 20 persen dari suara sah. Anam pun terpilih secara aklamasi.
Jumat, 17 Desember 2010
Muktamar I PKNU Dapat Rekor Muri
Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) menjadi partai yang pertama menggelar muktamar di atas kapal. Selain murah dari sisi biaya, bagi PKNU menggelar hajat di atas kapal itu juga untuk jejak Wali Songo.
===========================
Arwan Mannaungeng, Laut Jawa
===========================
SENIN (13/12) lalu suasana di ruang tunggu Pelabuhan Tanjung Perak begitu riuh ketika KMP Lambelu terlihat di kejauhan hendak merapat. Semakin dekat, puluhan bendera PKNU dan spanduk "Peduli Bahari, Peduli Negeri" menghias badan kapal. Ribuan peserta muktamirin yang sudah menanti sejak pagi menyambutnya suka cita.
Namun petugas pelabuhan mengingatkan para calon penumpang untuk tidak mendekat. Tapi peringatan ini tidak diindahkan sehingga di antara penumpang ada yang terkena tambang yang dilemparkan ke darat oleh Anak Buah Kapal (ABK). Beberapa peserta mengabadikan momen ini dengan mengambil gambar kapal yang sudah dihias.
Kapal yang berkapasitas 2.500 penumpang ini sedianya tiba di Tajung Perak sekitar puku 10.00 WIB, Senin (13/12) dari Pelabuhan Soekarno Hatta, Makassar, Sulsel. Karena cuaca buruk dan ombak setinggi tiga meter, KMP Lambelu tiba di Surabaya pukul 15.00 WIB.
Beberapa menit setelah merapat, puluhan santri memukul rebana sambil bershalawat. Di tengah-tengah lantunan shalawat yang berirama ini, Manajer Museum Rekor Republik Indonesia (MURI) Sri Widayati menyerahkan sertifikat penghargaan kepada Ketua Umum Dewan Tanfiz PKNU, Choirul Anam.
Bagi MURI, penyelenggaran muktamar PKNU di KMP Lambelu 13-14 Desember itu patut dihargai karena merupakan kegiatan yang pertama, unik, dan langka dilakukan parpol di Indonesia. PKNU membukukan rekor MURI yang ke-4639.
Dipilihnya muktamar di atas kapal, papar Cak Anam-sapaan akrab Choirul Anam-karena biaya lebih irit dan bisa diliput media. "Kami partai kecil, kalau gak kayak gini mana ada media mau meliput" Bayar iklan itu mahal, harus cari yang unik," katanya saat menyampaikan Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) DPP PKNU Periode 2006-2010 di
hadapan muktamirin di deck 6 KMP Lambelu.
Soal biaya, Ketua Panitia Pelaksana Muktamar I, Muhtar Tahir mengungkapkan, untuk hajatan pelaksanaan Muktamar I PKNU itu disediakan anggaran Rp 1,21 miliar. "Kalau acara ini dilakukan di darat dengan menyewa hotel, anggarannya bisa dua kali lipat," ucapnya.
Sedangkan politisi PKNU yang menjadi Ketua Panitia Pengarah Muktamar, Chudri Sitompul, mengatakan, pelaksanaan muktamar di kapal itu untuk menginisiasi eksplorasi kejayaan Indonesia sebagai bangsa bahari. Tujuannya, agar masyarakat bisa lebih memahami kondisi potensi laut milik Indonesia.
Selain itu, kata dia, PKNU ingin memotivasi para pemangku kepentingan untuk segera menetapkan grand design optimalsasi potensi laut. "Ini adalah upaya untuk meyakinkan masyarakat bahwa kita adalah bangsa bahari, bangsa yang besar di bidang maritim," katanya.
Chudri melanjutkan, pelaksanaan muktamar di atas kapal Pelni itu juga untuk memperingati Deklarasi Juanda tanggal 13 Desember 1957 yang dipelopori Indonesia. Deklarasi Juanda ini kemudian diadopsi menjadi United Nation Convention on Law of The Sea (UNCLOS).
"Muktamar di kapal ini mengikuti tradisi pengambilan keputusan yang dilakukan Wali Songo. Sebagai partai yang diilhami oleh semangat perjuangan Wali Songo, PKNU perlu mengikuti jejak para Wali yang menyebarkan agama Islam," tukanya.
Kapten KMP Lambelu, La Ode Muhisi, mengapresiasi sikap PKNU yang memilih muktamar di atas kapal. Apalagi, kata pria kelahiran Baubau Sulawesi Tenggara ini, semangat bahari mulai tergerus karena minimnya perhatian pemerintah. "Ini sangat positif. Kami ini sebagai insan bahari termarginalkan karena tidak ada keberpihakan kehidupan maritim dan keseriusan dari pihak pemerintah pusat dan daerah," katanya.
Di tengah lautan yang ombaknya terus menghantam kapal, lima sesi dari pelaksanaan muktamar terus digenjot hingga bisa diselesaikan sebelum tiba di Tanjung Priuk, Jakarta, Selasa (14/12). Pada sesi kelima, pada proses penjaringan calon ketua umum, Chairul Anam kembali terpilih sebagai Ketua Umum DPP Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) periode 2010-2015.
Ia mendapatkan 220 dari 272 suara yang diperebutkan dalam Muktamar I PKNU. Proses pemilihan tidak dilakukan karena berdasarkan tata tertib pemilihan, calon lain yang diusung tidak mendapatkan 20 persen suara.(***)
Dikutip: JPNN.com
===========================
Arwan Mannaungeng, Laut Jawa
===========================
SENIN (13/12) lalu suasana di ruang tunggu Pelabuhan Tanjung Perak begitu riuh ketika KMP Lambelu terlihat di kejauhan hendak merapat. Semakin dekat, puluhan bendera PKNU dan spanduk "Peduli Bahari, Peduli Negeri" menghias badan kapal. Ribuan peserta muktamirin yang sudah menanti sejak pagi menyambutnya suka cita.
Namun petugas pelabuhan mengingatkan para calon penumpang untuk tidak mendekat. Tapi peringatan ini tidak diindahkan sehingga di antara penumpang ada yang terkena tambang yang dilemparkan ke darat oleh Anak Buah Kapal (ABK). Beberapa peserta mengabadikan momen ini dengan mengambil gambar kapal yang sudah dihias.
Kapal yang berkapasitas 2.500 penumpang ini sedianya tiba di Tajung Perak sekitar puku 10.00 WIB, Senin (13/12) dari Pelabuhan Soekarno Hatta, Makassar, Sulsel. Karena cuaca buruk dan ombak setinggi tiga meter, KMP Lambelu tiba di Surabaya pukul 15.00 WIB.
Beberapa menit setelah merapat, puluhan santri memukul rebana sambil bershalawat. Di tengah-tengah lantunan shalawat yang berirama ini, Manajer Museum Rekor Republik Indonesia (MURI) Sri Widayati menyerahkan sertifikat penghargaan kepada Ketua Umum Dewan Tanfiz PKNU, Choirul Anam.
Bagi MURI, penyelenggaran muktamar PKNU di KMP Lambelu 13-14 Desember itu patut dihargai karena merupakan kegiatan yang pertama, unik, dan langka dilakukan parpol di Indonesia. PKNU membukukan rekor MURI yang ke-4639.
Dipilihnya muktamar di atas kapal, papar Cak Anam-sapaan akrab Choirul Anam-karena biaya lebih irit dan bisa diliput media. "Kami partai kecil, kalau gak kayak gini mana ada media mau meliput" Bayar iklan itu mahal, harus cari yang unik," katanya saat menyampaikan Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) DPP PKNU Periode 2006-2010 di
hadapan muktamirin di deck 6 KMP Lambelu.
Soal biaya, Ketua Panitia Pelaksana Muktamar I, Muhtar Tahir mengungkapkan, untuk hajatan pelaksanaan Muktamar I PKNU itu disediakan anggaran Rp 1,21 miliar. "Kalau acara ini dilakukan di darat dengan menyewa hotel, anggarannya bisa dua kali lipat," ucapnya.
Sedangkan politisi PKNU yang menjadi Ketua Panitia Pengarah Muktamar, Chudri Sitompul, mengatakan, pelaksanaan muktamar di kapal itu untuk menginisiasi eksplorasi kejayaan Indonesia sebagai bangsa bahari. Tujuannya, agar masyarakat bisa lebih memahami kondisi potensi laut milik Indonesia.
Selain itu, kata dia, PKNU ingin memotivasi para pemangku kepentingan untuk segera menetapkan grand design optimalsasi potensi laut. "Ini adalah upaya untuk meyakinkan masyarakat bahwa kita adalah bangsa bahari, bangsa yang besar di bidang maritim," katanya.
Chudri melanjutkan, pelaksanaan muktamar di atas kapal Pelni itu juga untuk memperingati Deklarasi Juanda tanggal 13 Desember 1957 yang dipelopori Indonesia. Deklarasi Juanda ini kemudian diadopsi menjadi United Nation Convention on Law of The Sea (UNCLOS).
"Muktamar di kapal ini mengikuti tradisi pengambilan keputusan yang dilakukan Wali Songo. Sebagai partai yang diilhami oleh semangat perjuangan Wali Songo, PKNU perlu mengikuti jejak para Wali yang menyebarkan agama Islam," tukanya.
Kapten KMP Lambelu, La Ode Muhisi, mengapresiasi sikap PKNU yang memilih muktamar di atas kapal. Apalagi, kata pria kelahiran Baubau Sulawesi Tenggara ini, semangat bahari mulai tergerus karena minimnya perhatian pemerintah. "Ini sangat positif. Kami ini sebagai insan bahari termarginalkan karena tidak ada keberpihakan kehidupan maritim dan keseriusan dari pihak pemerintah pusat dan daerah," katanya.
Di tengah lautan yang ombaknya terus menghantam kapal, lima sesi dari pelaksanaan muktamar terus digenjot hingga bisa diselesaikan sebelum tiba di Tanjung Priuk, Jakarta, Selasa (14/12). Pada sesi kelima, pada proses penjaringan calon ketua umum, Chairul Anam kembali terpilih sebagai Ketua Umum DPP Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) periode 2010-2015.
Ia mendapatkan 220 dari 272 suara yang diperebutkan dalam Muktamar I PKNU. Proses pemilihan tidak dilakukan karena berdasarkan tata tertib pemilihan, calon lain yang diusung tidak mendapatkan 20 persen suara.(***)
Dikutip: JPNN.com
Sabtu, 11 Desember 2010
Muktamar PKNU: Anam Masih Terkuat
SURABAYA-SURYA- Empat kandidat siap menggantikan Ketua Umum DPP Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) dalam Muktamar I yang akan digelar pada Minggu-Selasa (12-14/12) besok.
Keempat figur itu adalah Idham Cholied yang kini menjabat Sekretaris Jenderal (Sekjen). Lalu Mukhtar Thahir, Heflin Princes, dan Chudri Sitompul, ketiganya merupakan Ketua DPP PKNU.
Mukhtar ketika ditanya, terkesan masih malu-malu. Menurut Mukhtar dia tidak pernah berkeinginan mencalonkan diri sebagai ketua umum DPP PKNU. “Saya justru inginnya, tetap Cak Anam (Choirul Anam, Red) yang dipilih kembali,” jelas Mukhtar.
Mukhtar disebut-sebut mendapat dukungan dari daerah asalnya, Sulsel dan kawasan Indonesia Timur. Mukhtar juga diuntungkan dengan posisinya sebagai ketua panitia pelaksana muktamar. Posisi ini memberinya kesempatan berkomunikasi intensif dengan DPW dan DPC peserta muktamar.
“Sekadar disebut-sebut, tidak apalah. Kalau faktanya, saya ini sampai sekarang tidak pernah cari dukungan. Memang ada beberapa yang bilang mau mencalonkan saya, tapi sifatnya masih tidak mengikat,” katanya.
Ditanya pesaing terkuatnya, Mukhtar merasa figur-figur lain juga biasa-biasa saja. “Beberapa waktu lalu, kami yang kebetulan sama-sama pengurus DPP, sowan ke Pondok Pesantren Langitan. Di situ, semuanya bilang tidak mau mencalonkan. Tidak tahu lagi, kalau di forum nanti, muktamirin rame-rame mencalonkan,” ungkapnya.
Anam Tetap Kuat
Dikatakannya pernyataan tidak mau mencalonkan itu bukan berarti tidak mau menerima tanggung jawab sebagai ketua umum. Menurut Mukhtar dalam tradisi santri yang diadopsi PKNU, tidak ada istilah mencalonkan.
“Santri itu tidak punya budaya meminta jabatan seperti mencalonkan. Tapi kalau diberi amanat, mereka tidak akan mengecewakan kiainya,” ungkapnya.
Itu sebabnya ujar Mukhtar, peluang Choirul Anam terpilih kembali masih kuat. “Saya, dan mungkin teman-teman lain tidak akan mau dicalonkan, sepanjang Choirul Anam masih bersedia meneruskan kepemimpinannya,” tegasnya.
Bagaimana dengan Choirul Anam? “Saya sudah sampaikan, tidak akan mencalonkan,” tutur Choirul Anam saat dihubungi melalui telepon.
Menurut lelaki yang biasa dipanggil Cak Anam tersebut, sudah saatnya ada regenerasi di PKNU. “Saya ini sudah tua, rambut putih semua, dan juga sudah capek. Makanya akan lebih baik kalau ada yang menggantikan,” ujarnya.
Artinya Cak Anam menolak jika dicalonkan? “Tidak usah diarti-artikan. Tidak mencalonkan itu artinya, ya tidak mencalonkan,” katanya sembari tertawa.
Muktamar kali ini, akan diikuti sekitar 200 peserta. Terdiri lima orang utusan dari masing-masing DPC kota/kabupaten dan DPW provinisi. Berdasarkan draf, tiap DPC dan DPW memiliki satu suara dalam pemilihan. Khusus untuk DPC dan DPW yang memiliki lima kursi di DPRD mendapat tambahan satu suara, dan berlaku kelipatannya.ian
Keempat figur itu adalah Idham Cholied yang kini menjabat Sekretaris Jenderal (Sekjen). Lalu Mukhtar Thahir, Heflin Princes, dan Chudri Sitompul, ketiganya merupakan Ketua DPP PKNU.
Mukhtar ketika ditanya, terkesan masih malu-malu. Menurut Mukhtar dia tidak pernah berkeinginan mencalonkan diri sebagai ketua umum DPP PKNU. “Saya justru inginnya, tetap Cak Anam (Choirul Anam, Red) yang dipilih kembali,” jelas Mukhtar.
Mukhtar disebut-sebut mendapat dukungan dari daerah asalnya, Sulsel dan kawasan Indonesia Timur. Mukhtar juga diuntungkan dengan posisinya sebagai ketua panitia pelaksana muktamar. Posisi ini memberinya kesempatan berkomunikasi intensif dengan DPW dan DPC peserta muktamar.
“Sekadar disebut-sebut, tidak apalah. Kalau faktanya, saya ini sampai sekarang tidak pernah cari dukungan. Memang ada beberapa yang bilang mau mencalonkan saya, tapi sifatnya masih tidak mengikat,” katanya.
Ditanya pesaing terkuatnya, Mukhtar merasa figur-figur lain juga biasa-biasa saja. “Beberapa waktu lalu, kami yang kebetulan sama-sama pengurus DPP, sowan ke Pondok Pesantren Langitan. Di situ, semuanya bilang tidak mau mencalonkan. Tidak tahu lagi, kalau di forum nanti, muktamirin rame-rame mencalonkan,” ungkapnya.
Anam Tetap Kuat
Dikatakannya pernyataan tidak mau mencalonkan itu bukan berarti tidak mau menerima tanggung jawab sebagai ketua umum. Menurut Mukhtar dalam tradisi santri yang diadopsi PKNU, tidak ada istilah mencalonkan.
“Santri itu tidak punya budaya meminta jabatan seperti mencalonkan. Tapi kalau diberi amanat, mereka tidak akan mengecewakan kiainya,” ungkapnya.
Itu sebabnya ujar Mukhtar, peluang Choirul Anam terpilih kembali masih kuat. “Saya, dan mungkin teman-teman lain tidak akan mau dicalonkan, sepanjang Choirul Anam masih bersedia meneruskan kepemimpinannya,” tegasnya.
Bagaimana dengan Choirul Anam? “Saya sudah sampaikan, tidak akan mencalonkan,” tutur Choirul Anam saat dihubungi melalui telepon.
Menurut lelaki yang biasa dipanggil Cak Anam tersebut, sudah saatnya ada regenerasi di PKNU. “Saya ini sudah tua, rambut putih semua, dan juga sudah capek. Makanya akan lebih baik kalau ada yang menggantikan,” ujarnya.
Artinya Cak Anam menolak jika dicalonkan? “Tidak usah diarti-artikan. Tidak mencalonkan itu artinya, ya tidak mencalonkan,” katanya sembari tertawa.
Muktamar kali ini, akan diikuti sekitar 200 peserta. Terdiri lima orang utusan dari masing-masing DPC kota/kabupaten dan DPW provinisi. Berdasarkan draf, tiap DPC dan DPW memiliki satu suara dalam pemilihan. Khusus untuk DPC dan DPW yang memiliki lima kursi di DPRD mendapat tambahan satu suara, dan berlaku kelipatannya.ian
Senin, 06 Desember 2010
Hanya Haeny yang Ogah Hadiri Undangan Polres Tuban
Mengantisipasi terjadi kerusuhan seperti Pilkada Tuban 2006, Polres Tuban mengumpulkan enam pasangan cabup-cawabup yang telah mendaftar ke KPU, Sabtu (4/12), di aula mapolres.
Namun keinginan Polres untuk mempertemukan para cabup-cawabup tidak sepenuhnya berhasil, karena incumbent Haeny yang akan maju sebagai cawabup ogah datang. Selengkapnya yang memenuhi undangan polisi adalah pasangan Chamim Amir-Ashadi Suprapto (Matoh), Bambang Lukmantono-Edy Toyibi (Bangkit), Setiadjit-Bambang Hanter (Sehat), Fathul Huda-Noor Nahar Husain (Dahar), Muhammad Anwar-Tulus Setyo Utomo, dan Kristiawan-Haeny Relawati (Wany). Hanya pasangan Wany yang tidak lengkap. Kristiawan datang sendiri tanpa didampingi Cawabup Haeny Relawati.
Selain 6 pasangan calon, terlihat pula Dandim 0811, Ketua KPU, dan anggota Panwaslu Tuban. “Ini hanya silaturrahmi supaya semua saling kenal dan akrab. Tujuanya, untuk mewujudkan pelaksanaan Pilkada 2011 yang aman dan tertib,” kata Kapolres Tuban AKBP Nyoman Lastika.
Terkait pengamanan Pilkada, 1 Maret 2011, Polres Tuban telah mengerahkan 2/3 pasukan. Pada masa kampanye dan pemungutan suara, akan ada tambahan personel dari Polda Jatim dan dari TNI. Dandim 0811 Tuban Letkol Inf Naudi Nurdika menyampaikan, yang paling rawan adalah saat kampanye.
Namun keinginan Polres untuk mempertemukan para cabup-cawabup tidak sepenuhnya berhasil, karena incumbent Haeny yang akan maju sebagai cawabup ogah datang. Selengkapnya yang memenuhi undangan polisi adalah pasangan Chamim Amir-Ashadi Suprapto (Matoh), Bambang Lukmantono-Edy Toyibi (Bangkit), Setiadjit-Bambang Hanter (Sehat), Fathul Huda-Noor Nahar Husain (Dahar), Muhammad Anwar-Tulus Setyo Utomo, dan Kristiawan-Haeny Relawati (Wany). Hanya pasangan Wany yang tidak lengkap. Kristiawan datang sendiri tanpa didampingi Cawabup Haeny Relawati.
Selain 6 pasangan calon, terlihat pula Dandim 0811, Ketua KPU, dan anggota Panwaslu Tuban. “Ini hanya silaturrahmi supaya semua saling kenal dan akrab. Tujuanya, untuk mewujudkan pelaksanaan Pilkada 2011 yang aman dan tertib,” kata Kapolres Tuban AKBP Nyoman Lastika.
Terkait pengamanan Pilkada, 1 Maret 2011, Polres Tuban telah mengerahkan 2/3 pasukan. Pada masa kampanye dan pemungutan suara, akan ada tambahan personel dari Polda Jatim dan dari TNI. Dandim 0811 Tuban Letkol Inf Naudi Nurdika menyampaikan, yang paling rawan adalah saat kampanye.
Jumat, 03 Desember 2010
Seri Khutbah Jum'at Jawa: Menyambut Tahun Baru Islam
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الْمَحْمُوْدِ عَلَى كُلِّ حَالٍ، اَلْمَوْصُوْفِ بِصِفَاتِ الْجَلاَلِ وَالْكَمَالِ، الْمَعْرُوْفِ بِمَزِيْدِ اْلإِنْعَامِ وَاْلإِفْضَالِ. أَحْمَدُهُ سُبْحَاَنَهُ وَهُوَ الْمَحْمُوْدُ عَلَى كُلِّ حَالٍ. وَأَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ ذُو الْعَظَمَةِ وَالْجَلاَلِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَخَلِيْلُهُ الصَّادِقُ الْمَقَالِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ خَيْرِ صَحْبٍ وَآلٍ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كثيرا. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى حَقَّ تُقَاتِهِ، حَيْثُ قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
Ma’asyiral muslimin, jama’ah sholat Jum’ah rahimakumullah.
Monggo kito senantioso ningkataken iman lan taqwo kito dumateng Allah swt. dengan cara mendekatkan diri dumateng Allah SWT. Nopo maleh kito sakmeniko wonten sasi Dzul hijjah ingkang merupakan sasi/wulan ingkang dipun mulyaaken deneng Allah lan Rasulullah. Bulan menunaikan haji sebagai rukun Islam ingkang kaping gangsal. Bulan dikabulakenipun doa lan hajat kito sedoyo.
Ma’asyiral muslimin, jama’ah sholat Jum’ah rahimakumullah.
Bulan Dzulhijjah merupakan salah setunggal saking sekawan wulan ingkang tergolong asyhurul hurum (bulan-bulan mulia). Sekawan wulan meniko, ingkang tigo kasebut berurutan, Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah lan Muharram. Lan ingkang sanese inggih meniko wulan Rajab. Penjumlahan kaleh welas wulan Hijriyah lan penetapan sekawan wulan sebagai wulan mulia sampun digarisaken deneng Allah SWT. dalam surah at Taubah, ayat 36:
•
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus.”
Ma’asyiral muslimin ……………
Mboten krahos, sekedap maleh kito bade memasuki tahun baru Islam atawen tahun baru Hijriyah 1430. Perhatian lan penyambutan umat Islam terhadap tahun baru Islam kedah kito akui, khususipun teng negari kito meniko ternyata kalah semarak dibandingaken perhatian lan penyambutan terhadap tahun baru Masehi. Kenyataan kados mekaten meniko jelas kedah patut disayangaken, sebab sebagai umat Islam tentu kito kedah membanggakan tahun barunya sendiri.
Kirangipun perhatosan umat Islam dumateng penanggalan Hijriyah saget ditingali lan dibukteaken kanti sekedikipun umat Islam ingkang mampu menghafal nama-nama dua belas bulan wonten penanggalan Hijriyah kados ingkang sampun disebat wonten Surah at Taubah kolowahu. Sangwangsule, nami-nami dua belas bulan wonten penanggalan Masehi mereka dapat menghafal di luar kepala.
Langkung dipun sayangaken maleh, ternyata mboten jarang umat Islam maringi nami dateng putra-putrinipun kanti disesueaken kalian nama-nama bulan Masehi. Misalipun, bilih putranipun lahir Januari diparingi nami Januari Kristi, bilih Pebruari diparingi nami Febrianti, bilih April diparingi nami Aprilia lan sanes-sanese. Padahal tanpa mereka sadari, sejatosipun sebagian besar nama-nama bulan wonten penanggalan Masehi meniko dinukil lan diambil saking nama-nama dewa orang Romawi. Bilih ternyata kito sebagai umat Islam ternyata paring nami anak-anak kito klawan nami-nami dewa, nopo meniko pantes?
Penamaan bulan-bulan Masehi dilakukan oleh Kaisar Romawi. Bulan Januari lan Pebruari ingkang sejatosipun didadosaken bulan ke-11 lan ke-12, dipendetaken saking nama dewa-dewa mereka. Semanten ugi, wulan Maret, April, Mei lan Juni diambilkan nama-nama dewa. Sementara bulan Juli lan Agustus terambil saking nama raja-raja mereka, Raja Julius lan Raja Agustinus.
Ma’asyirol muslimin………………
Kirang populeripun penanggalan tahun Hijriyah di mata umat Islam sebenarnya mboten lepas saking tipisipun ghiroh lan semangat umat Islam terhadap pemakaian beberapa simbol lan istilah keislaman. Istilah-istilah dalam khazanah keislaman termasuk diantaranya masalah penanggalan Hijriyah merupakan sebagian kecil identitas umat Islam ingkang mulai dilupakan. Memang masalah meniko mboten kalebet persoalan prinsip, tetapi nopo kemawon naminipun identitas atawin jatidiri jelas sanget dibutuhaken.
Sebagian besar generasi umat Islam memang mboten jarang dihinggapi perasaan malu lan minder nalikane nampilaken identitas keislamanipun. Sebagai contoh, mereka malu paring nami putra-putrinipun kanti nami-nami islami. Mereka malu nutupi auratipun kanti jilbab lan pakian-pakian Islami. Malu mboten gadah pacar keranten kuatir diwestani mboten laku. Malu menghafal lan memakai nama-nama wulan Hijriah, lan sanes-sanesipun.
Sakmeniko umat Islam memang dihinggapi penyakit rendah diri. Fanatisme lan semangat terhadap simbol-simbol lan identitas Islam mulai luntur lan memudar. Sakwangsule, mereka makin suka lan bangga memakai simbol-simbol tiyang sanes. Kondisi meniko diperparah kalian anggapan bilih tiyang Islam ingkang wanton nampilaken simbol-simbol Islam dinilai kolot, sehinggo tambah lami simbol-simbol Islam tansoyo asing. Mboten namung asing kangge tiyang non Islam kemawon, tapi ugi asing kanggene umat Islam piyambak. Meniko sesuai kalian dawuhipun Kanjeng Nabi:
عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم بدأ الإسلام غريبا وسيعود كما بدأ غريبا فطوبى للغرباء
“Islam bermula datang dalam keadaan asing dan (suatu ketika) akan kembali terasa asing sebagaimana semula. Maka berbahagialah orang-orang yang asing tersebut.” (HR. Imam Muslim).
Ma’asyiral muslimin, jama’ah sholat Jum’ah rahimakumullah.
Pemakaian penanggalan Hijriyah woten kehidupan sehari-hari kangge tiyang Islam sanget penting nilainipun. Penyebutan bulan Dzul Hijjah misalipun, akan menggugah seorang muslim untuk mengingat bahwa bulan ini adalah salah satu dari keempat bulan yang dimuliakan oleh Allah. Wulan ingkang kebak barokah lan dikabulakene dungo.
Nalikanipun penanggalan tahun Hijriyah mulai luntur lan dilupakan oleh umat Islam, mongko kemungkinan besar bade diikuti oleh memudarnya semangat pelaksanaan terhadap sunnah-sunnah Rasulullah, lan sangwangsule identitas lan simbol-simbol Barat (Nasrani-Yahudi) tan soyo tambah digemari.
Ma’asyiral muslimin, jama’ah sholat Jum’ah rahimakumullah.
Generasi umat Islam kedah berusaha sekuat tenaga membiasakan diri kalian penanggalan Hijriyah, sebab perhitungan lan pemakaian penanggalan Hijriyah bade ngingetaken dumateng keberadaan waktu-waktu ingkang mulia menurut agami.
Dalam skala tahun, misalipun, dikenal bulan Ramadlan sebagai bulan paling mulia ingkang wonten lailatul qodar (malam ingakang kemuliaanipun ngungkuli seribu bulan). Dalam setahun ugi wonten 4 wulan ingkang mulio (asyhurul hurum), Muharram, Rojab, Dzul Qo’dah lan Dzul Hijjah. Ugi wonten wulan mulyo, pintu menuju wulan Romadlon, inggih meniko Sya’ban.
Dalam skala bulan, wonten dinten-dinten ingkang mulyo lan disunnahaken poso kados ayyamul bidl (tgl. 13,14,15), hari Tasu’a’ (9 Muharram), Asyuro’ (10 Muharram), Tarwiyah (8 Dzul Hijjah), Arafah (9 Dzul Hijjah), 6 dinten wonten wulan Syawal lan sanes-sanesipun.
Walhasil, keranten sedoyo amal-amal kolowahu erat kaitanipun kalian perhitungan lan penyebutan penanggalan Hijriyah (mboten penanggalan Jawa atawin Masehi), mongko mbiasaaken setiap hari ngangge penanggalan Hijriyah kedah dimulai lan ditradisiaken wonten tengah-tengah keluarga kito sedoyo umat Islam.
أعوذ بالله من الشيطان الرجيم
•
بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم، ونفعني وإياكم بالأيات والذكر الحكيم وتقبل مني ومنكم تلاوته انه هو السميع العليم وقل رب اغفر وارحم وانت خير الراحمين.
Ma’asyiral muslimin, jama’ah sholat Jum’ah rahimakumullah.
Monggo kito senantioso ningkataken iman lan taqwo kito dumateng Allah swt. dengan cara mendekatkan diri dumateng Allah SWT. Nopo maleh kito sakmeniko wonten sasi Dzul hijjah ingkang merupakan sasi/wulan ingkang dipun mulyaaken deneng Allah lan Rasulullah. Bulan menunaikan haji sebagai rukun Islam ingkang kaping gangsal. Bulan dikabulakenipun doa lan hajat kito sedoyo.
Ma’asyiral muslimin, jama’ah sholat Jum’ah rahimakumullah.
Bulan Dzulhijjah merupakan salah setunggal saking sekawan wulan ingkang tergolong asyhurul hurum (bulan-bulan mulia). Sekawan wulan meniko, ingkang tigo kasebut berurutan, Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah lan Muharram. Lan ingkang sanese inggih meniko wulan Rajab. Penjumlahan kaleh welas wulan Hijriyah lan penetapan sekawan wulan sebagai wulan mulia sampun digarisaken deneng Allah SWT. dalam surah at Taubah, ayat 36:
•
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus.”
Ma’asyiral muslimin ……………
Mboten krahos, sekedap maleh kito bade memasuki tahun baru Islam atawen tahun baru Hijriyah 1430. Perhatian lan penyambutan umat Islam terhadap tahun baru Islam kedah kito akui, khususipun teng negari kito meniko ternyata kalah semarak dibandingaken perhatian lan penyambutan terhadap tahun baru Masehi. Kenyataan kados mekaten meniko jelas kedah patut disayangaken, sebab sebagai umat Islam tentu kito kedah membanggakan tahun barunya sendiri.
Kirangipun perhatosan umat Islam dumateng penanggalan Hijriyah saget ditingali lan dibukteaken kanti sekedikipun umat Islam ingkang mampu menghafal nama-nama dua belas bulan wonten penanggalan Hijriyah kados ingkang sampun disebat wonten Surah at Taubah kolowahu. Sangwangsule, nami-nami dua belas bulan wonten penanggalan Masehi mereka dapat menghafal di luar kepala.
Langkung dipun sayangaken maleh, ternyata mboten jarang umat Islam maringi nami dateng putra-putrinipun kanti disesueaken kalian nama-nama bulan Masehi. Misalipun, bilih putranipun lahir Januari diparingi nami Januari Kristi, bilih Pebruari diparingi nami Febrianti, bilih April diparingi nami Aprilia lan sanes-sanese. Padahal tanpa mereka sadari, sejatosipun sebagian besar nama-nama bulan wonten penanggalan Masehi meniko dinukil lan diambil saking nama-nama dewa orang Romawi. Bilih ternyata kito sebagai umat Islam ternyata paring nami anak-anak kito klawan nami-nami dewa, nopo meniko pantes?
Penamaan bulan-bulan Masehi dilakukan oleh Kaisar Romawi. Bulan Januari lan Pebruari ingkang sejatosipun didadosaken bulan ke-11 lan ke-12, dipendetaken saking nama dewa-dewa mereka. Semanten ugi, wulan Maret, April, Mei lan Juni diambilkan nama-nama dewa. Sementara bulan Juli lan Agustus terambil saking nama raja-raja mereka, Raja Julius lan Raja Agustinus.
Ma’asyirol muslimin………………
Kirang populeripun penanggalan tahun Hijriyah di mata umat Islam sebenarnya mboten lepas saking tipisipun ghiroh lan semangat umat Islam terhadap pemakaian beberapa simbol lan istilah keislaman. Istilah-istilah dalam khazanah keislaman termasuk diantaranya masalah penanggalan Hijriyah merupakan sebagian kecil identitas umat Islam ingkang mulai dilupakan. Memang masalah meniko mboten kalebet persoalan prinsip, tetapi nopo kemawon naminipun identitas atawin jatidiri jelas sanget dibutuhaken.
Sebagian besar generasi umat Islam memang mboten jarang dihinggapi perasaan malu lan minder nalikane nampilaken identitas keislamanipun. Sebagai contoh, mereka malu paring nami putra-putrinipun kanti nami-nami islami. Mereka malu nutupi auratipun kanti jilbab lan pakian-pakian Islami. Malu mboten gadah pacar keranten kuatir diwestani mboten laku. Malu menghafal lan memakai nama-nama wulan Hijriah, lan sanes-sanesipun.
Sakmeniko umat Islam memang dihinggapi penyakit rendah diri. Fanatisme lan semangat terhadap simbol-simbol lan identitas Islam mulai luntur lan memudar. Sakwangsule, mereka makin suka lan bangga memakai simbol-simbol tiyang sanes. Kondisi meniko diperparah kalian anggapan bilih tiyang Islam ingkang wanton nampilaken simbol-simbol Islam dinilai kolot, sehinggo tambah lami simbol-simbol Islam tansoyo asing. Mboten namung asing kangge tiyang non Islam kemawon, tapi ugi asing kanggene umat Islam piyambak. Meniko sesuai kalian dawuhipun Kanjeng Nabi:
عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم بدأ الإسلام غريبا وسيعود كما بدأ غريبا فطوبى للغرباء
“Islam bermula datang dalam keadaan asing dan (suatu ketika) akan kembali terasa asing sebagaimana semula. Maka berbahagialah orang-orang yang asing tersebut.” (HR. Imam Muslim).
Ma’asyiral muslimin, jama’ah sholat Jum’ah rahimakumullah.
Pemakaian penanggalan Hijriyah woten kehidupan sehari-hari kangge tiyang Islam sanget penting nilainipun. Penyebutan bulan Dzul Hijjah misalipun, akan menggugah seorang muslim untuk mengingat bahwa bulan ini adalah salah satu dari keempat bulan yang dimuliakan oleh Allah. Wulan ingkang kebak barokah lan dikabulakene dungo.
Nalikanipun penanggalan tahun Hijriyah mulai luntur lan dilupakan oleh umat Islam, mongko kemungkinan besar bade diikuti oleh memudarnya semangat pelaksanaan terhadap sunnah-sunnah Rasulullah, lan sangwangsule identitas lan simbol-simbol Barat (Nasrani-Yahudi) tan soyo tambah digemari.
Ma’asyiral muslimin, jama’ah sholat Jum’ah rahimakumullah.
Generasi umat Islam kedah berusaha sekuat tenaga membiasakan diri kalian penanggalan Hijriyah, sebab perhitungan lan pemakaian penanggalan Hijriyah bade ngingetaken dumateng keberadaan waktu-waktu ingkang mulia menurut agami.
Dalam skala tahun, misalipun, dikenal bulan Ramadlan sebagai bulan paling mulia ingkang wonten lailatul qodar (malam ingakang kemuliaanipun ngungkuli seribu bulan). Dalam setahun ugi wonten 4 wulan ingkang mulio (asyhurul hurum), Muharram, Rojab, Dzul Qo’dah lan Dzul Hijjah. Ugi wonten wulan mulyo, pintu menuju wulan Romadlon, inggih meniko Sya’ban.
Dalam skala bulan, wonten dinten-dinten ingkang mulyo lan disunnahaken poso kados ayyamul bidl (tgl. 13,14,15), hari Tasu’a’ (9 Muharram), Asyuro’ (10 Muharram), Tarwiyah (8 Dzul Hijjah), Arafah (9 Dzul Hijjah), 6 dinten wonten wulan Syawal lan sanes-sanesipun.
Walhasil, keranten sedoyo amal-amal kolowahu erat kaitanipun kalian perhitungan lan penyebutan penanggalan Hijriyah (mboten penanggalan Jawa atawin Masehi), mongko mbiasaaken setiap hari ngangge penanggalan Hijriyah kedah dimulai lan ditradisiaken wonten tengah-tengah keluarga kito sedoyo umat Islam.
أعوذ بالله من الشيطان الرجيم
•
بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم، ونفعني وإياكم بالأيات والذكر الحكيم وتقبل مني ومنكم تلاوته انه هو السميع العليم وقل رب اغفر وارحم وانت خير الراحمين.
Gus Ubaid-Arif Djunaidi pimpin lagi PKNU Jatim
DUTA MASYARAKAT, 04 Desember 2010
LAMONGAN — Musyawarah Wilayah (Muswil) I Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) di Tanjung Kodok Beach Resort Lamongan, Kamis (2/12) kemarin, akhirnya memilih kembali KH Ubaidillah Faqih (Gus Ubaid) untuk menjadi Ketua Dewan Syuro DPW PKNU Jawa Timur periode 2010-2015. Sedang Mohammad Arif Djunaidi terpilih kembali menjadi Ketua Dewan Tanfidz.
Proses pemilihan Ketua Dewan Syuro dan Ketua Dewan Tanfidz berjalan sangat ketat. Sebab, dua kandidat Ketua Dewan Tanfidz yaitu Mohammad Arif Djunaidi dan Mohammad Anwar Sadad sama-sama mengklaim mendapat dukungan dari mayoritas DPC dan para Ulama Deklarator PKNU.
Beberapa jam menjelang sidang pemilihan, bursa kandidat ketua dewan syuro lebih mengemuka dibanding dengan bursa ketua dewan tanfidz. Hal itu karena ada wacana satu paket dengan dewan tanfidz.
Ketua DPC PKNU Kabupaten Kediri, Romadlon Sukardi, mengatakan, ada dua kandidat dewan syuro yang bersaing secara ketat. Hal itu setelah tersiar kabar KH Ubaidillah Faqih tidak bersedia menjabat ketua dewan syuro. Untuk itu muncul dua kandidat ketua dewan syuro yakni KHR Zaki Abdullah dari Situbondo yang digandengkan dengan Mohammad Anwar Sadad dan KH Firjaun Barlaman dari Kediri yang digandengkan dengan Mohammad Arif Djunaidi.
Suasana semakin memanas setelah tersiar kabar KH Ubaidillah Faqih bersedia kembali menerima amanah para peserta Muswil untuk dicalonkan sebagai ketua dewan syuro. Apalagi setelah para peserta mendengar langsung pernyataan kesediaan dari Gus Ubaid dalam sambutannya saat menyatakan demisioner. "Kami bersedia kembali dicalonkan, jika Allah menghendaki untuk memegang amanah ini," ujar Gus Ubaid.
Dengan bersedianya Gus Ubaid, barisan pendukung Arif Djunaidi semakin yakin Muswil ini secara aklamasi akan mendukung sang jago untuk memimpin kembali PKNU periode 2010-2015. "Insya Allah pemilihan nanti tidak terlalu lama dan aklamasi mendukung kembali pasangan KH Ubaidillah Faqih dan Mohammad Arif Djunaidi SH," kata salah satu peserta Muswil dari Tulungagung.
Sidang pemilihan dipimpin langsung oleh Ketua Umum DPP PKNU Drs Choirul Anam (Cak Anam) didampingi MH. Rofiq, Wakil Ketua DPW PKNU. Sebelum sidang dimulai, Cak Anam memberikan nasihat kepada para peserta agar dalam pemilihan mengedepankan akhlakul karimah seperti yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dan para Khalifah di zaman Nabi. Tidak hanya itu Cak Anam juga wanti- wanti agar para peserta menghindarkan money politics karena hal itu bertolak belakang dari dasar pendirian PKNU.
Sebelum pemilihan dimulai, Cak Anam menawarkan kepada para peserta apakah pemilihan ini diselesaikan dengan cara musyawarah atau lebih mengedepankan aklamasi, dari pada cara pemungutan suara secara langsung.
Tawaran pimpinan sidang ini ditolak oleh para peserta, di antara cabang yang menolak adalah Cabang Bondowoso dan Sumenep. Mereka menilai aklamasi tidak sesuai dengan ketentuan tata tertib. Dan keinginan tersebut disetujui oleh pimpinan sidang sehingga pada tahap awal pemilihan dilakukan pemungutan suara untuk menentukan calon ketua dewan syuro.
Sesuai tata tertib setiap cabang mendapat hak satu suara. Namun ada beberapa cabang memperoleh hak suara berbeda, karena sesuai dengan representasi perolehan kursi DPRD. Setelah dihitung jumlah hak suara pemilihan dewan syuro ada 49 suara dengan catatan 1 cabang dinyatakan tidak mempunyai hak suara karena tidak ada SK dari DPP, dan dua cabang tidak hadir di sidang pemilihan.
Dari hasil pemungutan suara calon ketua dewan syuro KH Ubaidillah Faqih memperoleh 30 suara, KH Zaki Abdullah 13 suara, Firjaun Barlaman 4 suara, Gus Tip 1 suara, dan abstain 1 suara. Pimpinan sidang memutuskan calon yang memperoleh 9 suara berhak untuk melanjutkan pemilihan kembali.
Setelah dilakukan pemilihan dengan menampilkan dua kandidat, yaitu KH Ubaidillah Faqih dan KH Zaki Abdullah, hasilnya KH Ubaidillah Faqih memperoleh 33 suara dan KH Zaki Abdullah 16 suara.
Sidang selanjutnya pemungutan suara untuk memilih ketua dewan tanfidz. Pada pemungutan suara untuk calon ketua dewan tanfidz ini Mohammad Anwar Sadad memperoleh 15 suara, Mohammad Arif Djunaidi memperoleh 33 suara, Hidayat memperoleh 1 suara, dan Kalibek memperoleh 1 suara.
Usai pemungutan suara pada tahap pencalonan, pimpinan sidang meminta dua kandidat yang memperoleh suara terbanyak untuk menyatakan kesediaannya. Namun, kandidat ketua dewan tanfidz Anwar Sadad akhirnya menyatakan tidak bersedia dicalonkan tanpa menyebutkan alasan, sementara Arif Djunaidi bersedia dicalonkan. Untuk itu pimpinan sidang menetapkan Arif Djunaidi sebagai ketua terpilih.
Usai melakukan pemilihan, pimpinan sidang menetapkan tim formatur. Berdasarkan tata tertib tim ini dipilih dari DPP, DPW, satu perwakilan perempuan, satu perwakilan cabang dari wilayah barat, timur, utara, tengah, dan selatan Jawa Timur. Dari hasil musyawarah beberapa cabang, yang duduk di tim formatur adalah cabang Nganjuk, Jember, Surabaya, Tulungagung, dan Bangkalan.
Usai terpilih menjadi Ketua Dewan Tanfidz, Arif Djunaidi mengatakan bahwa Muswil akan dijadikan momen awal untuk lebih mengedepankan ukhuwah sesama pengurus dan anggota PKNU, sehingga tidak ada pertikaian, tidak seperti budaya yang sering terjadi saat partai-partai lain menggelar musyawarah atau sejenisnya. “Dan di PKNU semua berakhir dengan persaudaraan kembali,” katanya.
LAMONGAN — Musyawarah Wilayah (Muswil) I Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) di Tanjung Kodok Beach Resort Lamongan, Kamis (2/12) kemarin, akhirnya memilih kembali KH Ubaidillah Faqih (Gus Ubaid) untuk menjadi Ketua Dewan Syuro DPW PKNU Jawa Timur periode 2010-2015. Sedang Mohammad Arif Djunaidi terpilih kembali menjadi Ketua Dewan Tanfidz.
Proses pemilihan Ketua Dewan Syuro dan Ketua Dewan Tanfidz berjalan sangat ketat. Sebab, dua kandidat Ketua Dewan Tanfidz yaitu Mohammad Arif Djunaidi dan Mohammad Anwar Sadad sama-sama mengklaim mendapat dukungan dari mayoritas DPC dan para Ulama Deklarator PKNU.
Beberapa jam menjelang sidang pemilihan, bursa kandidat ketua dewan syuro lebih mengemuka dibanding dengan bursa ketua dewan tanfidz. Hal itu karena ada wacana satu paket dengan dewan tanfidz.
Ketua DPC PKNU Kabupaten Kediri, Romadlon Sukardi, mengatakan, ada dua kandidat dewan syuro yang bersaing secara ketat. Hal itu setelah tersiar kabar KH Ubaidillah Faqih tidak bersedia menjabat ketua dewan syuro. Untuk itu muncul dua kandidat ketua dewan syuro yakni KHR Zaki Abdullah dari Situbondo yang digandengkan dengan Mohammad Anwar Sadad dan KH Firjaun Barlaman dari Kediri yang digandengkan dengan Mohammad Arif Djunaidi.
Suasana semakin memanas setelah tersiar kabar KH Ubaidillah Faqih bersedia kembali menerima amanah para peserta Muswil untuk dicalonkan sebagai ketua dewan syuro. Apalagi setelah para peserta mendengar langsung pernyataan kesediaan dari Gus Ubaid dalam sambutannya saat menyatakan demisioner. "Kami bersedia kembali dicalonkan, jika Allah menghendaki untuk memegang amanah ini," ujar Gus Ubaid.
Dengan bersedianya Gus Ubaid, barisan pendukung Arif Djunaidi semakin yakin Muswil ini secara aklamasi akan mendukung sang jago untuk memimpin kembali PKNU periode 2010-2015. "Insya Allah pemilihan nanti tidak terlalu lama dan aklamasi mendukung kembali pasangan KH Ubaidillah Faqih dan Mohammad Arif Djunaidi SH," kata salah satu peserta Muswil dari Tulungagung.
Sidang pemilihan dipimpin langsung oleh Ketua Umum DPP PKNU Drs Choirul Anam (Cak Anam) didampingi MH. Rofiq, Wakil Ketua DPW PKNU. Sebelum sidang dimulai, Cak Anam memberikan nasihat kepada para peserta agar dalam pemilihan mengedepankan akhlakul karimah seperti yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dan para Khalifah di zaman Nabi. Tidak hanya itu Cak Anam juga wanti- wanti agar para peserta menghindarkan money politics karena hal itu bertolak belakang dari dasar pendirian PKNU.
Sebelum pemilihan dimulai, Cak Anam menawarkan kepada para peserta apakah pemilihan ini diselesaikan dengan cara musyawarah atau lebih mengedepankan aklamasi, dari pada cara pemungutan suara secara langsung.
Tawaran pimpinan sidang ini ditolak oleh para peserta, di antara cabang yang menolak adalah Cabang Bondowoso dan Sumenep. Mereka menilai aklamasi tidak sesuai dengan ketentuan tata tertib. Dan keinginan tersebut disetujui oleh pimpinan sidang sehingga pada tahap awal pemilihan dilakukan pemungutan suara untuk menentukan calon ketua dewan syuro.
Sesuai tata tertib setiap cabang mendapat hak satu suara. Namun ada beberapa cabang memperoleh hak suara berbeda, karena sesuai dengan representasi perolehan kursi DPRD. Setelah dihitung jumlah hak suara pemilihan dewan syuro ada 49 suara dengan catatan 1 cabang dinyatakan tidak mempunyai hak suara karena tidak ada SK dari DPP, dan dua cabang tidak hadir di sidang pemilihan.
Dari hasil pemungutan suara calon ketua dewan syuro KH Ubaidillah Faqih memperoleh 30 suara, KH Zaki Abdullah 13 suara, Firjaun Barlaman 4 suara, Gus Tip 1 suara, dan abstain 1 suara. Pimpinan sidang memutuskan calon yang memperoleh 9 suara berhak untuk melanjutkan pemilihan kembali.
Setelah dilakukan pemilihan dengan menampilkan dua kandidat, yaitu KH Ubaidillah Faqih dan KH Zaki Abdullah, hasilnya KH Ubaidillah Faqih memperoleh 33 suara dan KH Zaki Abdullah 16 suara.
Sidang selanjutnya pemungutan suara untuk memilih ketua dewan tanfidz. Pada pemungutan suara untuk calon ketua dewan tanfidz ini Mohammad Anwar Sadad memperoleh 15 suara, Mohammad Arif Djunaidi memperoleh 33 suara, Hidayat memperoleh 1 suara, dan Kalibek memperoleh 1 suara.
Usai pemungutan suara pada tahap pencalonan, pimpinan sidang meminta dua kandidat yang memperoleh suara terbanyak untuk menyatakan kesediaannya. Namun, kandidat ketua dewan tanfidz Anwar Sadad akhirnya menyatakan tidak bersedia dicalonkan tanpa menyebutkan alasan, sementara Arif Djunaidi bersedia dicalonkan. Untuk itu pimpinan sidang menetapkan Arif Djunaidi sebagai ketua terpilih.
Usai melakukan pemilihan, pimpinan sidang menetapkan tim formatur. Berdasarkan tata tertib tim ini dipilih dari DPP, DPW, satu perwakilan perempuan, satu perwakilan cabang dari wilayah barat, timur, utara, tengah, dan selatan Jawa Timur. Dari hasil musyawarah beberapa cabang, yang duduk di tim formatur adalah cabang Nganjuk, Jember, Surabaya, Tulungagung, dan Bangkalan.
Usai terpilih menjadi Ketua Dewan Tanfidz, Arif Djunaidi mengatakan bahwa Muswil akan dijadikan momen awal untuk lebih mengedepankan ukhuwah sesama pengurus dan anggota PKNU, sehingga tidak ada pertikaian, tidak seperti budaya yang sering terjadi saat partai-partai lain menggelar musyawarah atau sejenisnya. “Dan di PKNU semua berakhir dengan persaudaraan kembali,” katanya.
Muswil I PKNU Jatim: KH Faqih Redam Tensi Persaingan
Sidang Muswil PKNU Jatim Minim Interupsi
LAMONGAN - SURYA- Tausiyah pengasuh Pondok Pesantren KH Abdullah Faqih di pembukaan Musyawarah Wilayah (Muswil) I Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) mengurangi tensi persaingan calon ketua PKNU Jatim.
Kiai kharismatik itu tidak berpanjang-panjang kata saat diberi waktu untuk menyampaikan tausiyah di hadapan 250 peserta Muswil I PKNU yang berasal dari 38 cabang di kota dan kabupaten se-Jatim.
Ia hanya mengingatkan peserta muswil dengan membaca nukilan ajaran Nabi Muhammad SAW yang dirawayatkan oleh Tirmidzi. Kiai khos itu sangat prihatin dengan kondisi masyarakat Indonesia yang bertubi-tubi mengalami musibah.
“Ada 15 tanda-tanda yang mengawali datangnya hembusan angin merah, lumpur tanah ambles, gempa bumi dan gunung meletus dan tanah longsor,” ujar KH Faqih di Tanjung Kodok Beach Resort, Kamis siang (2/12).
Adapun 15 tanda-tanda yang diisyaratkan itu antara lain: uang negara hanya terpusat pada orang - orang kaya atau atasan, orang berbaik kepada kawan-kawannya tapi tidak dengan orang tuanya sendiri, bersuara keras membuat kegaduhan di dalam masjid, mengangkat pemimpin yang rendah tabiatnya dan seorang dihormati semata-mata karena takut akan kejahatannya.
“Lalu, maraknya minuman keras dan narkoba, orang laki-laki berpakaian serba sutra, maraknya biduan dan artis dan alat-alat musik dan orang suka menghujat generasi pendahulunya,” tutur salah seorang deklartaor PKNU itu.
Para peserta muswil manggut-manggut mendengar tausiyah itu. Suasana pembukaan muswil berjalan sejuk tanpa ada pengkondisian dan gerakan pemenangan calon ketua tanfidziyah DPW PKNU Jatim, antara kubu Arief Djunaedi maupun Anwar Sadad.
Bahkan saat sidang-sidang muswil dimulai juga berlangsung adem-ayem dan lancar. Tidak banyak interupsi yang diajukan dalam persidangan tata tertib muswil ataupun tata tertib pemilihan. Ketua sidang muswil I PKNU dipimpin Wakil Ketua Tanfidz MH Rofiq.
Disela-sela sidang muswil, salah seorang kandidat Arif Djunaidi, menyatakan dirinya siap menerima apapun keputusan muswil.
“Intinya saya siap saja jika diberi amanat oleh peserta muswil. Siapapun yang terpilih nantinya akan menghadapi tugas yang berat menghadapi situasi politik ke depan,” kata Arif kepada Surya .
Sementara itu Muswil I DPW PKNU Jatim itu dihadiri sejumlah kiai, di antaranya: Rois Syuriah PW Nahdlatul Ulama Jatim, KH Miftakhul Ahyar, KH Muhammad Subadar dan KH Sholeh Qosim. Selain itu Ketua Umum DPP PKNU, Choirul Anam juga hadir diiringi pengurus pusat lainnya.
Jutaan Hangus
Choirul Anam (Cak Anam) dalam orasi politiknya menolak rencana penerapan ambang batas perolehan suara atau parliamentary threshold (PT) sebesar lima persen. Karena rancangan itu bakal mengikis habis partai kecil, termasuk PKNU.
Ia mencontohkan Pemilu 2009 dengan PT hanya dua persen sebanyak 20 juta perolehan suara partai telah memilih suara dihanguskan begitu saja oleh KPU. “Itu saja bertentangan dengan undang-undang. Apalagi PT lima persen akan ada sekitar 40 juta sampai 50 juta suara hangus,” papar Cak Anam.
Untuk itu, ia menyambut baik ajakan untuk membentuk konfederasi partai politik seperti yang saat ini sedang berkembang. Jika konfederasi berjalan maka partai kecil berkumpul agar suara – suara itu tidak hangus percuma.
“Ide semacam konfederasi parpol itu juga dipakai di negara-negara lain seperti di Malaysia,” ” terangnya.st36
LAMONGAN - SURYA- Tausiyah pengasuh Pondok Pesantren KH Abdullah Faqih di pembukaan Musyawarah Wilayah (Muswil) I Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) mengurangi tensi persaingan calon ketua PKNU Jatim.
Kiai kharismatik itu tidak berpanjang-panjang kata saat diberi waktu untuk menyampaikan tausiyah di hadapan 250 peserta Muswil I PKNU yang berasal dari 38 cabang di kota dan kabupaten se-Jatim.
Ia hanya mengingatkan peserta muswil dengan membaca nukilan ajaran Nabi Muhammad SAW yang dirawayatkan oleh Tirmidzi. Kiai khos itu sangat prihatin dengan kondisi masyarakat Indonesia yang bertubi-tubi mengalami musibah.
“Ada 15 tanda-tanda yang mengawali datangnya hembusan angin merah, lumpur tanah ambles, gempa bumi dan gunung meletus dan tanah longsor,” ujar KH Faqih di Tanjung Kodok Beach Resort, Kamis siang (2/12).
Adapun 15 tanda-tanda yang diisyaratkan itu antara lain: uang negara hanya terpusat pada orang - orang kaya atau atasan, orang berbaik kepada kawan-kawannya tapi tidak dengan orang tuanya sendiri, bersuara keras membuat kegaduhan di dalam masjid, mengangkat pemimpin yang rendah tabiatnya dan seorang dihormati semata-mata karena takut akan kejahatannya.
“Lalu, maraknya minuman keras dan narkoba, orang laki-laki berpakaian serba sutra, maraknya biduan dan artis dan alat-alat musik dan orang suka menghujat generasi pendahulunya,” tutur salah seorang deklartaor PKNU itu.
Para peserta muswil manggut-manggut mendengar tausiyah itu. Suasana pembukaan muswil berjalan sejuk tanpa ada pengkondisian dan gerakan pemenangan calon ketua tanfidziyah DPW PKNU Jatim, antara kubu Arief Djunaedi maupun Anwar Sadad.
Bahkan saat sidang-sidang muswil dimulai juga berlangsung adem-ayem dan lancar. Tidak banyak interupsi yang diajukan dalam persidangan tata tertib muswil ataupun tata tertib pemilihan. Ketua sidang muswil I PKNU dipimpin Wakil Ketua Tanfidz MH Rofiq.
Disela-sela sidang muswil, salah seorang kandidat Arif Djunaidi, menyatakan dirinya siap menerima apapun keputusan muswil.
“Intinya saya siap saja jika diberi amanat oleh peserta muswil. Siapapun yang terpilih nantinya akan menghadapi tugas yang berat menghadapi situasi politik ke depan,” kata Arif kepada Surya .
Sementara itu Muswil I DPW PKNU Jatim itu dihadiri sejumlah kiai, di antaranya: Rois Syuriah PW Nahdlatul Ulama Jatim, KH Miftakhul Ahyar, KH Muhammad Subadar dan KH Sholeh Qosim. Selain itu Ketua Umum DPP PKNU, Choirul Anam juga hadir diiringi pengurus pusat lainnya.
Jutaan Hangus
Choirul Anam (Cak Anam) dalam orasi politiknya menolak rencana penerapan ambang batas perolehan suara atau parliamentary threshold (PT) sebesar lima persen. Karena rancangan itu bakal mengikis habis partai kecil, termasuk PKNU.
Ia mencontohkan Pemilu 2009 dengan PT hanya dua persen sebanyak 20 juta perolehan suara partai telah memilih suara dihanguskan begitu saja oleh KPU. “Itu saja bertentangan dengan undang-undang. Apalagi PT lima persen akan ada sekitar 40 juta sampai 50 juta suara hangus,” papar Cak Anam.
Untuk itu, ia menyambut baik ajakan untuk membentuk konfederasi partai politik seperti yang saat ini sedang berkembang. Jika konfederasi berjalan maka partai kecil berkumpul agar suara – suara itu tidak hangus percuma.
“Ide semacam konfederasi parpol itu juga dipakai di negara-negara lain seperti di Malaysia,” ” terangnya.st36
Langganan:
Postingan (Atom)