Minggu, 01 Agustus 2010

Alumni Langitan Serukan Karaoke Ditutup Selama Ramadlan

Alumni Ponpes. Langitan di daerah Kabupaten Tuban yang beraneka ragam profesinya mulai dari kiai, guru, pejabat, pengusaha, petani dan lain sebagainya berkumpul kembali setelah sekian lama tidak bertemu. Terlihat guyub sekali, tak ubahnya dengan waktu dulu ketika masih sama-sama mengaji di pondok. Berkumpulnya para alumni Ponpes Langitan ini dalam rangka mengikuti acara Pelantikan Pengurus Cabang (PC) dan Pengurus Anak Cabang (PAC) Keluarga Santri dan Alumni Ponpes Langitan (Kesan) periode 2010-2015 di Gedung KSPKP Tuban (31/7).
Selain dihadiri Pengurus Pusat Kesan dan keluarga besar pengasuh Pondok Pesantren Langitan seperti KH. Muhammad Faqih, KH. Abdulloh Habib, KH. Ali Marzuqi, juga dihadiri oleh kiai-kiai Tuban misalnya KH. Fathul Huda, KH. Muhyin Faqih dan KH. Mansur.
Dalam acara pelantikan ini, Pengurus Cabang Kesan Tuban mengeluarkan “Maklumat” yang berisi seruan kepada Bupati Tuban, aparat penegak hukum dan pihak-pihak yang berwenang agar selama bulan Ramadlan ini:
1. Menutup beroperasinya tempat-tempat hiburan malam seperti karaoke.
2. Menginstruksikan kepada semua pengusaha rumah makan, restoran, cafe, warung, kedai kopi dan lain-lain agar tidak membuka usaha secara demonstratif dan harus memasang kain penutup atau sekat di siang hari.
3. Merazia tempat-tempat yang biasa dijadikan sebagai ajang minum-minuman keras.
4. Menginstruksikan kepada pengelola hotel dan tempat-tempat penginapan lainnya untuk tidak mengijinkan kepada pasangan yang bukan suami istri untuk menginap.
5. Melarang perdaran jual beli petasan.
Seruan ini rencananya akan disampaikan secara resmi kepada pihak-pihak yang berkompeten. “Maklumat ini besuk akan kita kirimkan kepada Bupati, aparat kepolisian dan pihak-pihak terkait,” ujar Saiful Huda, Sekretaris Kesan Cabang Tuban. Pria yang juga merupakan anggota DPRD kabupaten Tuban ini sangat berharap agar pemerintah Kabupaten Tuban dapat merespons maklumat Kesan Cabang Tuban tersebut.(Ody).

1 komentar:

Abdulloh mengatakan...

Beritanya kok ditulis dewe, diposting dewe, ndok bloge dw toh bos? ya kurang greget. Mestinya yg nulis tuh media lain dan yg lbih penting lagi, kapan surat itu di berikan pada 'ibu' kita? trus bgmana responnya?..